Penyesalanku yang tak ada gunanya
Desi adalah siswa SMA disalah satu
sekolah negeri di Semarang. Desi anak pertama dari dua bersaudara. Sasa, ya
itulah nama adik desi, adik yang selama ini buat Desi jengkel karena suka
menasihati dirinya. Desi dilahirkan dari keluarga yang kurang berada. Ibunya
hanyalah seorang pedagang kaki lima dan Ayahnya pergi entah kemana. Setiap hari Desi menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak ada gunanya. Mulai dari bermain hingga larut malam,
keluyuran tidak tahu tujuan hingga menginap di rumah teman tanpa sepengetahuan
ibunya. Entah Ibunya kawatir atau tidak yang jelas Dia tidak peduli. Desi bisa
dibilang anak yang nakal karena dia selalu mendapat kasus disekolahnya. Namun,
sekolahnya tidak member sanksi terhadapnya.
Desi tanpa sepengetahuan teman-temanya
yaitu sendi dan alvi ternyata berkelahi dengan salah satu siswa dari luar
sekolah entah apa penyebabnya desi belum mau cerita. Guru BK desi ternyata
mengetahui hal itu dan mengirimkan surat pemberitahuan kepada ibu desi. Ibuny
desi pun kaget menerima surat itu karena yang beliau tahu anaknya baik-baik
saja. Besoknya ibunya desi memenuhi undangan untuk datang kesekkolah. Di
sekolah guru bk memberitahu kelakuan anaknya disekolah. Ibunya hanya bisa
menangis melihat kelakuan anknya yang keterlalauan itu. Sampai dirumah desi
langsung dimarahi oleh ibuanya, tetapi desi menganggap omongan dari ibunya itu
hanya angin lalu yang tak perlu didengarkan. Sasa, adiknya juga ikut menasihati
kakaknya, namun yang didapat sasa hanyalah kata-kata kasar yang keluar
dari mulut kakaknya itu.
Konflik antara desi dan ibunya tidak
pernah meredam hingga suatu ketika saat Desi hendak pergi sekolah, Desi dan
ibunya mengalami pertengkaran yang hebat gara-gara Desi minta uang untuk bayar
sekolahnya. Tetapi, saat itu ibunya belum mempunyai uang untuk membayar
sekolahnya, begitulah alasan ibu Desi tidak mengasih uang. Namun, Desi tidak
pernah mau mengerti kondisi keluarganya. Ibu desi sebenarnya sedih tidak bisa
memberikan kebahagiaan buat anaknya, namun mau bagaimana lagi, itu beliau
lakukan karena terpaksa, ya terpaksa karena tidak punya uang ditambah lagi
beliau yang sakit-sakitan. Uangpun tidak didapatkannya, akhirnya Desi
memutuskan untuk segera pergi kesekolah dengan muka yang terlihat marah. Sesampainya
disekolah dia ditanya oleh temannya “ Desi kamu kenapa?”. “ Aku tidak apa-apa”,
begitulah jawaban dari Desi yang mencoba menutupi masalahnya karena malu jika
nanti temanya yaitu sendi dan alvi tahu tentang keadaan keluarganya. “ oh..
kirain kamu lagi ada masalah” sahut sendi. Desi hanya tersenyum kecut dengan
pernyataan sendi itu. Kriinggggg….. krriiingg…. Krrriinggg….. bel pun berbunyi.
“ bel sudah berbunyi tuh mari kita masuk nanti telat lagi” ajak alvi. “ iya yuk
masuk, inikan pelajaran guru paling killer” sahut sendi. Mereka bertigapun
langsung menuju kelasnya.
Saat bel pulang sekolah Desi meminta
izin ke sendi untuk menginap dirumahnya,mungkinkarena pertengkaran tadi pagi yang membuatnya enggan pulang kerumah. “
sen, aku boleh nginap dirumahmu tidak?” tanya Desi. “ tentu saja boleh lah”
jawab sendi. “ kenapa kamu tidak mau pulang kerumah des, nanti kamu dicariin
ibumu lho” pertanyaan alvi. “ aku tidak ingin pulang untuk malam ini, aku ingin
mengina dirumah sendi saja” jawab desi dengan muka cueknya. Desi, sendi, dan
alvi pun pergi sesuai tujuannya masing-masing. Desi dan sendi segera masuk
kamar sendi untuk sgera istirahat. “kamu tidak mau sms tau telfon ibumu untuk
mengasih tahu kalau kamu disini?” tanya sendi. “ enggak ah, baut apa” jawab
desi dengan entengnya. “ apa kamu tidak aksihan sama ibumu yang sedang
sakit-sakitan ?”. “ sudah lah tidak usah peduliin ibu aku”. Padahal ibunya desi
sedang menunggu anak kesayangannya itu pulang, ia berharap untuk mala mini bisa
tidur bersama anak tersayangnya yang tak lain adalah kakak sasa. Perasaan
ibunya tidak karuan hingga memutuskan untuk mencari anaknya kesekolah. Setengah
perjalanan hujanpun turun. Dengan keadaan saki-sakitan ibunya masih bela-belain
kesekolah untuk mencari anaknya yang tak kunjung pulang. Sesampainya disekolah
beliau langsung bertanya kepada penjaga yang kebetulan bertugaas malam itu. “
pak apakan anak saya mash desekolah ini?” tanya ibu itu. “ maaf ya bu siswa
sudah pulang semua, lagi pula ini sudah malam dan juga cuaca lagihujan begini”
jawab penjaga. “ ya sudah terima kasih” ibunya desipun langsung pulang dengan
keadaan yang semakin sakit bercampur kawatir memikirkan anaknya.
Keesokan paginya, Desi segera pulang
dengan tujuan untuk mengambil buku dan kembali lagi ke sekolah. Dari kejauhan
desi melihat banyak orang berdatangan dirumahnya. Desi semakin bingung dan di
samperin oleh tetanggaya. Tetangganya itu menyampaikan surat untuk desi. Isi
surat itu “ desi anakku tersayang, maafkan ibujika selama ini ibu belum pernah
membahagiakan dirimu. Ketahui lah ibu sangat menyayangimu, kuharap engkau mau
memaafkan ibu. Ibu menitipkan adikmu jaga dia baik-baik seperti ibu menjagamu
waktu kecil dulu.” Desi membaca dengan berlinang air mata bagaikan air sungai
yang mengalir. Dalam hatinya berkata “ ibu maafkan kesalahanku selama ini, aku
memang anak yang nakal, anak yang tidak tahu diri yang selalu menjadi beban
untukmu . ibu aku mmenyayangimu.” Desi
merasa menyesal namun penyesalannya kini sudah tidak ada gunanya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar