Minggu, 15 Maret 2015

cerpen remaja

Penyesalanku yang tak ada gunanya
Desi adalah siswa SMA disalah satu sekolah negeri di Semarang. Desi anak pertama dari dua bersaudara. Sasa, ya itulah nama adik desi, adik yang selama ini buat Desi jengkel karena suka menasihati dirinya. Desi dilahirkan dari keluarga yang kurang berada. Ibunya hanyalah seorang pedagang kaki lima dan Ayahnya pergi entah kemana.  Setiap hari Desi menghabiskan waktunya  dengan hal-hal yang tidak ada gunanya.  Mulai dari bermain hingga larut malam, keluyuran tidak tahu tujuan hingga menginap di rumah teman tanpa sepengetahuan ibunya. Entah Ibunya kawatir atau tidak yang jelas Dia tidak peduli. Desi bisa dibilang anak yang nakal karena dia selalu mendapat kasus disekolahnya. Namun, sekolahnya tidak member sanksi terhadapnya.
Desi tanpa sepengetahuan teman-temanya yaitu sendi dan alvi ternyata berkelahi dengan salah satu siswa dari luar sekolah entah apa penyebabnya desi belum mau cerita. Guru BK desi ternyata mengetahui hal itu dan mengirimkan surat pemberitahuan kepada ibu desi. Ibuny desi pun kaget menerima surat itu karena yang beliau tahu anaknya baik-baik saja. Besoknya ibunya desi memenuhi undangan untuk datang kesekkolah. Di sekolah guru bk memberitahu kelakuan anaknya disekolah. Ibunya hanya bisa menangis melihat kelakuan anknya yang keterlalauan itu. Sampai dirumah desi langsung dimarahi oleh ibuanya, tetapi desi menganggap omongan dari ibunya itu hanya angin lalu yang tak perlu didengarkan. Sasa, adiknya juga ikut menasihati kakaknya, namun yang didapat sasa hanyalah kata-kata kasar yang keluar dari  mulut kakaknya itu.
Konflik antara desi dan ibunya tidak pernah meredam hingga suatu ketika saat Desi hendak pergi sekolah, Desi dan ibunya mengalami pertengkaran yang hebat gara-gara Desi minta uang untuk bayar sekolahnya. Tetapi, saat itu ibunya belum mempunyai uang untuk membayar sekolahnya, begitulah alasan ibu Desi tidak mengasih uang. Namun, Desi tidak pernah mau mengerti kondisi keluarganya. Ibu desi sebenarnya sedih tidak bisa memberikan kebahagiaan buat anaknya, namun mau bagaimana lagi, itu beliau lakukan karena terpaksa, ya terpaksa karena tidak punya uang ditambah lagi beliau yang sakit-sakitan. Uangpun tidak didapatkannya, akhirnya Desi memutuskan untuk segera pergi kesekolah dengan muka yang terlihat marah. Sesampainya disekolah dia ditanya oleh temannya “ Desi kamu kenapa?”. “ Aku tidak apa-apa”, begitulah jawaban dari Desi yang mencoba menutupi masalahnya karena malu jika nanti temanya yaitu sendi dan alvi tahu tentang keadaan keluarganya. “ oh.. kirain kamu lagi ada masalah” sahut sendi. Desi hanya tersenyum kecut dengan pernyataan sendi itu. Kriinggggg….. krriiingg…. Krrriinggg….. bel pun berbunyi. “ bel sudah berbunyi tuh mari kita masuk nanti telat lagi” ajak alvi. “ iya yuk masuk, inikan pelajaran guru paling killer” sahut sendi. Mereka bertigapun langsung menuju kelasnya.

Saat bel pulang sekolah Desi meminta izin ke sendi untuk menginap dirumahnya,mungkinkarena pertengkaran tadi  pagi yang membuatnya enggan pulang kerumah. “ sen, aku boleh nginap dirumahmu tidak?” tanya Desi. “ tentu saja boleh lah” jawab sendi. “ kenapa kamu tidak mau pulang kerumah des, nanti kamu dicariin ibumu lho” pertanyaan alvi. “ aku tidak ingin pulang untuk malam ini, aku ingin mengina dirumah sendi saja” jawab desi dengan muka cueknya. Desi, sendi, dan alvi pun pergi sesuai tujuannya masing-masing. Desi dan sendi segera masuk kamar sendi untuk sgera istirahat. “kamu tidak mau sms tau telfon ibumu untuk mengasih tahu kalau kamu disini?” tanya sendi. “ enggak ah, baut apa” jawab desi dengan entengnya. “ apa kamu tidak aksihan sama ibumu yang sedang sakit-sakitan ?”. “ sudah lah tidak usah peduliin ibu aku”. Padahal ibunya desi sedang menunggu anak kesayangannya itu pulang, ia berharap untuk mala mini bisa tidur bersama anak tersayangnya yang tak lain adalah kakak sasa. Perasaan ibunya tidak karuan hingga memutuskan untuk mencari anaknya kesekolah. Setengah perjalanan hujanpun turun. Dengan keadaan saki-sakitan ibunya masih bela-belain kesekolah untuk mencari anaknya yang tak kunjung pulang. Sesampainya disekolah beliau langsung bertanya kepada penjaga yang kebetulan bertugaas malam itu. “ pak apakan anak saya mash desekolah ini?” tanya ibu itu. “ maaf ya bu siswa sudah pulang semua, lagi pula ini sudah malam dan juga cuaca lagihujan begini” jawab penjaga. “ ya sudah terima kasih” ibunya desipun langsung pulang dengan keadaan yang semakin sakit bercampur kawatir memikirkan anaknya.
Keesokan paginya, Desi segera pulang dengan tujuan untuk mengambil buku dan kembali lagi ke sekolah. Dari kejauhan desi melihat banyak orang berdatangan dirumahnya. Desi semakin bingung dan di samperin oleh tetanggaya. Tetangganya itu menyampaikan surat untuk desi. Isi surat itu “ desi anakku tersayang, maafkan ibujika selama ini ibu belum pernah membahagiakan dirimu. Ketahui lah ibu sangat menyayangimu, kuharap engkau mau memaafkan ibu. Ibu menitipkan adikmu jaga dia baik-baik seperti ibu menjagamu waktu kecil dulu.” Desi membaca dengan berlinang air mata bagaikan air sungai yang mengalir. Dalam hatinya berkata “ ibu maafkan kesalahanku selama ini, aku memang anak yang nakal, anak yang tidak tahu diri yang selalu menjadi beban untukmu . ibu aku mmenyayangimu.”  Desi merasa menyesal namun penyesalannya kini sudah tidak ada gunanya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar